
Sedang Mengudara /

Arsip Video //

Senandung Sendu /

Senandung Sendu adalah kelompok musik minimalis asal Jakarta yang diinisiasi oleh Visi Natalia dan Adi Victory pada tahun 2017.
Sebagian besar lagu Senandung Sendu berasal dari puisi-puisi yang ditulis oleh Adi Victory, kemudian disulap oleh Visi Natalia menjadi sebuah lagu yang menenangkan hati serta beberapa organ perasa lainnya.
Kini, Senandung Sendu memberanikan diri untuk memperdengarkan lagu-lagu mereka ke publik. Setiap perjalanan, perasaan, dan beberapa cerita mendasar yang mereka tulis segera bisa dinikmati dalam sebuah album.
‘Sebenarnya Sudah, adalah tajuk dari album perdana mereka. Album ini bercerita tentang perasaan-perasaan personal dan beberapa manusia yang terlibat didalamnya. Album perdana Senandung Sendu ini, akan banyak bercerita tentang berbagai tragedi yang pernah terjadi dii sekitar kita, seperti tsunami Anyer, Bom Surabaya, Peristiwa 98, dan kejadian-kejadian besar lainnya.
Besar harapan Senandung Sendu, kelak lagu-lagu mereka bukan menjadi sekedar lagu yang hanya manis didengar, namun akan berevolusi menjadi memori pengingat kita akan perjalanan panjang seorang manusia.
Album perdana mereka juga dibantu oleh beberapa musisi. Senandung Sendu akan berkolaborasi dengan Misi Lesar, Alvin Ghazalie, Dua Empat, Sinyo Drumboy, Kartika Sebayang, Alex Satria, Ade Yason, Stanly Owu dan beberapa musisi lainnya.

'Sebenarnya Sudah // Album
Sekumpulan Lirik -
WAHAI HUJAN
Berangan-angan setiap malam
Tak tau kapan akan berselang
Mengulang tangisan, tak berkawan
Takkan ada, mata-mata berlarian
Ooo..Ooo..
Ooo..Ooo..
Berlarilah bersama jiwa yang menghujam
Nyatanya rindu tak sejalan angan
Lirih terdiam, berhenti di perhentian
Tak lagi manis.. Wahai hujan
RAYU BIRU
Seketika langit hening
Burung-burung pergi
Daun-daun berguguran
Yang bersuara, jadi diam
Yang ada, pergi lagi
Yang rindu pun tak bersua
Dimana entah dimana
Badai tenanglah tenang
Ku gapai dirimu, namun kau hilang
Ku tahan isak tangis
Saat laut memanggilmu pulang
LANGIT MENANGIS LAGI
Malam ini kutemui
Langit menangis lagi
Entah apa yang dirasa
Entah apa yang disapa
Ruang jantungku pun sepi
Tak lagi berpenghuni
Tak pernah merasa lagi
Api adalah api
Tak perlu iri
Pada langit merintih
Kar’na hijaunya hari ini
Adalah ingatan diri sendiri
SURAT TERBUKA
Menerima Tamu..
Aku kirimkan suara ketukan pintu untukmu
Ada tamu yang tak pasti
Entah ingin dijamu
Atau hanya akan kau jawab dengan bisu
Bercerminlah..
Memastikan ketidaksempurnaan
Yang akan membuka pintu
Ya.. kau tuan rumahnya
Jejak langkahmu menuju pintu
Akan retak membentuk tanya
Jadi,
Sudah siap melanjutkan hidup
Atau berhenti disini?
MANU-SIA
Katamu air percaya
Apa yang salah ‘tuk dipercaya
Katamu api paling benar adanya
Seolah bahagia hanya niscaya
Malam ini kudengar gaduh beradu
Seolah hanya ada dirimu
Pagi ini kudengar dentum melagu
Tak ada lagi tawa kala itu
Manusia.. Apa kamu manusia?
Manusia.. Apa kamu manusia?
CUKUP HARI ITU
Kali ini tak akan kubiarkan luka
Melukai diri bersamaan
Cukup hari itu kita berhenti di perhentian
Kita bukan lagi sebuah perumpamaan
Percaya akan ada matahari
Setelah hujan lebat hari ini
Percaya akan ada matahari
Setelah hujan, hari ini..
SURAT TERBUKA TERBUKA
Teruntuk kamu yang sulit disela isak tangisnya..
Hilir mudik segukan mendengungkan telingamu,
Mematikan suara waktu..
Kamar yang gelap,
Membuatmu susah menata ulang nafasmu
Rupanya kau se-nadi dengan “hidup”,
Pun- mengalirkan darah duka
Lihat, tumpukan kertas di sudut kamarmu
Berisi cerita yang pernah ada..
Ambil satu ‘tuk menjadi teman nostalgia
Pilih yang tintanya berdansa
Karena ia punya mantra
Menjadikanmu, kuat yang rajin taruhan
Jika kalah berani kembali mengulang
Jadilah burung kelana yang terbang sendirian,
Menyisik langit..
MUNGKIN TERLALU PAGI
Selayaknya langit mendung
Tangis tak mampu dibendung
Dengarlah senandung pagi ini
Berlalu atau berhenti.. disini
Selayaknya api membara
Lagi hanyalah amarah
Setiap jari jemari terkepal
Siap tuk meratakan pikiran bebal
Mungkin terlalu pagi untuk diingat
Terdiam rapuh lalu, terjebak penat
Ingin berdiri, namun ditindih
Ingin berlari, namun dicaci
Kita adalah yang dikehendaki
Angkat kepala atau mati disini